Efektifkah 2 Vaksin Di Indonesia Untuk Lawan Varian Baru Covid

Lonjakan kematian akibat COVID juga menyebabkan India kekurangan kayu bakar untuk mengkremasi jasad korban COVID-19. Maka, bagi orang-orang yang rentan secara klinis atau mereka yang berusia 50 tahun ke atas, periode antara kedua suntikan itu akan dikurangi menjadi delapan minggu. Namun, tidak seluruh vaksin COVID-19 merek AstraZeneca dihentikan pendistribusian dan penggunaannya.

Vaksin Astra Zaneca ampuh melawan varian baru covid

Sejumlah klaster persebaran corona diduga berasal dari warga yang pulang dari Kabupaten Kudus. Sementara ribuan varian telah muncul saat virus bermutasi saat replikasi, hanya minoritas yang sangat kecil kemungkinan besar menjadi penting dan mengubah virus dengan cara yang berarti, menurut British Medical Journal. Hal ini, mendorong produsen vaksin, termasuk Pfizer Inc dan AstraZeneca Plc, untuk mencoba meningkatkan kemampuan mereka, kata seorang menteri Inggris. Ditanya tentang perbedaan antara hasil vaksin Pfizer dan AstraZeneca, dia mengatakan faktor kunci yang perlu dipertimbangkan. Karena itu, semua orang tetap disarankan berhati-hati, menjaga jarak dan memakai masker ketika berada di ruang umum atau ruang tertutup bersama orang yang belum suntik vaksin Covid-19. “Kami akan terus memperbarui sebanyak mungkin vaksin Covid-19 kami untuk mengendalikan pandemi,” kata Bancel.

Di samping Sinovac, pemerintah memenuhi kebutuhan vaksin itu dari Sinopharm, perusahaan farmasi asal Cina; Pfizer-BioNTech; serta Moderna, perusahaan asal Amerika Serikat. Vaksin dari berbagai perusahaan itu diperkirakan tiba pada pertengahan tahun ini. Public Health England mengatakan perbedaan efektivitas antar vaksin setelah dua dosis dapat dijelaskan oleh fakta bahwa peluncuran dosis kedua AstraZeneca lebih lambat daripada vaksin Pfizer, yang disetujui lebih dulu. Mereka yang telah divaksinasi dengan vaksin influenza sedikit mengurangi risiko terkena COVID- 19 infeksi.

Tim dari Universitas Sao Paulo, Fakultas Kedokteran Universitas Washington dan sejumlah institusi pun melakukan penelitian di Brasil. Hasilnya menemukan bahwa vaksin virus Corona yang digunakan saat ini yakni Sinovac tidak ampuh melawan virus di negara tersebut. Dalam studi yang belum ditinjau rekan sejawat tersebut, para peneliti mengatakan varian ini memiliki hasil mutasi unik. Varian virus ini dengan mudah mendominasi dan menjadi penyebab tingginya penyebaran Covid-19 di wilayah tersebut. Penyebarannya diperkirakan 1,four sampai 2,2 kali lebih menular dibanding varian awal. Hasil studi lainnya yang dilaporkan oleh European Centre for Disease Prevention and Control pada 21 Januari 2021, juga menyebutkan varian virus korona ini memang diperkirakan lebih menular 36 sampai 75 persen dibanding jenis virus lainnya.

Ahli virus dari Imperial College London ini mengatakan, masih terlalu dini untuk dapat menyimpulkan apakah kemampuan ‘mengelabui’ imunitas yang telah terbangun dapat mengakibatkan vaksin yang sedang dikembangkan menjadi tidak efektif. Melalui sebuah studi yang dipublikasi oleh The Lancet, para ilmuwan dari Universitas Sao Paulo Brasil dan Oxford Inggris, memperlihatkan bahwa varian P1 ini kemungkinan muncul di Kota Manaus, Brasil, pada awal November 2020. Salah satu perubahan yang dikhawatirkan dari mutasi ini terletak pada space Bola Online yang disebut E484K. Perubahan ini mempengaruhi area pengikat reseptor, bagian dari protein lonjakan yang paling penting untuk melekat pada sel.